PERI HARAPAN DAN IMPIAN


Aku Diandra, si peri kecil penabur harapan. Aku suka datang pada siapa saja yang sedang berkasmaran, menaburkan benih-benih harap dalam tubuhnya, kadang keahlianku itu membuat seseorang bahagia tetepi kadang banyak membuat orang terluka. Kadang harapan yang kutaburkan itu tak sesuai dengan kenyataannya. Karena aku hanya peri harapan dan tak pernah tahu isi hati seseorang. Jadi kadang aku merasa bersalah jika karena keahlianku seseorang itu terluka. Namun mau bagaimana lagi, itu keahlianku sekaligus pekerjaanku. Jika aku menolak melakukan tugasku, jantungku terasa amat sakit, seperti dipukul-pukul oleh pukulan kasti.
“cepat lakukan tugasmu pada gadis di taman itu sekarang” suara itu terdengar marah saat aku sedang berfikir apakah aku harus melakukannya, dan seketika jantungku nyeri sedikit demi sedikit makin sakit. Mau tidak mau aku lakukan itu. Kemudian aku menaburkan harapan itu dalam tubuh  gadis disana, padahal aku tahu bahwa laki-laki yang mendekati gadis itu tadi bersama wanita lain. Aku jadi merasa bersalah. Karena kini gadis itu terlihat amat bahagia. Setelah melakukan tugas itu jantungku kembali normal, tetapi perasaanku tetap tidak enak. Akhirnya aku pergi sendiri, ketempat yang tak ada manusia. Agar aku tak perlu melakukan tugas itu lagi.
Setelah 3 bulan aku bersembunyi akhirnya aku keluar, dan alarm tugas ku kembali berbunyi, itu tanda bahwa aku harus kembali melaksanakan tugas itu lagi. Lagi-lagi harus seperti itu. ‘kenapa kekuatanku seperti ini’ teriakku dalam hati.

 ***

Aku Cintya, si peri kecil penabur impian. Teman Diandra, si peri harapan. Aku suka datang pada siapa saja yang sedang bimbang akan hidupnya, menabur benih-benih impian dalam tubuhnya. Kadang keahlianku membuat seseorag bahagia tetapi kadang membuat orang berputus asa. Kadang impian yang kutabur itu tak sesuai kenyataan. Karena aku hanya peri impian dan tak pernah tahu masa depan. Jadi kadang aku merasa bersalah jika karena keahlianku seseorang berputus asa. Namun mau bagaimana lagi, itu keahlianku sekaligus pekerjaanku. Jika aku menolak melakukan tugasku, kepalaku terasa amat sakit, seperti di bentur-benturkan ke dinding.
“cepat lakukan tugasmu pada laki-laki di sebrang jalan sana sekarang” suara itu terdengar amat mengerikan saat aku sedang menatap laki-laki yang tak tahu arah disana, lama aku memperhatikanya tiba-tiba kepala ku nyeri dan sedikit demi sedikit makin sakit. Mau tidak mau aku melakukan itu. Aku menghampirinya dan kemudian menaburkan impiannya. Setelah itu ia menjad semangat dan mengatakan keras-keras bahwa ia akan menjadi orang sukses. Tetapi, sepertinya ada yang tidak beres, hatiku tidak tenang. Tetapi semoga ini hanya perasaanku saja.
Setelah 3 bulan, aku kembali melihatnya disebrang jalan itu lagi, ia berteriak dengan kerasnya “kenapa aku tidak bisa menjadi orang kaya” lalu setelah itu ia melompat dari pembatas jalan dan tewas seketika. Aku langsung lemas melihatnya. Ini sudah yang kesekian kalinya. Lagi-lagi seperti itu. ‘kenapa kekuatanku seperti ini’ teriakku dalam hati.



-si Sendu

#TantanganODOP2
#onedayonepost
#odopbatch6
#fiksi

Komentar

Postingan Populer